Senin, 13 Februari 2012



Balanitis
TINJAUAN PUSTAKA


2.1  Pengertian Balanitis
Balanitis adalah iritasi yang terjadi pada bagian yang paling sensitif dari kepala penis (balanus) , yang merupakan bentuk kerucut pada ujung penis. Peradangan tersebut menyebabkan nyeri, rasa gatal, kemerahan, bengkak dan bisa akhirnya menyebabkan penyempitan (stricture) pada urethra. Gatal, panas, nyeri. Keluarnya lendir subprepusial 2-3 hari setelah koitus pada penyakit karena hubungan kelamin. Pejantan anjing yang mengalami balanoposthitis akan mengalami peningkatan resiko berkembangnya balanitis xerotica obliterans, phimosis, paraphimosis, dan kanker di kemudian hari.
Pada balanitis xerotica obliterans, peradangan kronis menyebabkan kulit di sekitar ujung penis menjadi keras dan lalu kembali menjadi putih. Pembukaan urethra seringkali dikelilingi oleh kulit putih yang keras ini, yang segera menyumbat aliran kemih dan semen. Krim anti radang atau anti bakteri bisa meringankan peradangan, tetapi seringkali urethra harus dibuka kembali dengan operasi.
Phimosis bisa diakibatkan dari iritasi berkepanjangan atau balanoposthitis berulang. Kulit khitan yang diikat bisa berhubungan dengan berkemih dan kegiatan seks dan bisa meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Pengobatan yang umum adalah sunat.
Pada paraphimosis, kulit khitan yang ditarik kembali tidak dapat didorong ke depan untuk melindungi kepala penis. Keadaan tersebut paling sering terjadi setelah ahli medis menarik kembali kulit khitan sebagai bagian pada prosedur medis atau jika seseorang mendorong ke belakang kulit khitan untuk membersihkan penis pada seorang anak dan lupa untuk mendorongnya ke arah belekang. Tekanan yang meningkat segera mencegah darah mencapai penis, yang akan mengakibatkan kerusakan jaringan penile jika kulit khitan tidak didorong ke arah belakang. Penyunatan atau pembelaha pada kulit khitan meringankan paraphimosis.
Erythroplasia dari queyrat biasanya terjadi pada pejantan yang tidak disunat. Yang menghasilkan daerah terpisah, kemerah-merahan, seperti beludru pada penis, biasanya di atas atau pada dasar kepala penis. Penyebab tersebut kemungkinan iritasi lama pada penis di bawah kulit khitan. Jika awalnya bukan kanker, erythroplasia dari queyrat bisa menjadi kanker jika dibiarkan tidak diobati.

2.2  Etiologi Balanitis
Balantitis merupakan peradangan yang disebabkan kepala penis mengalami infeksi yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
·         Penyakit kolagen, sindroin Reiter.
·         Erupsi obat.
·         Dermatitis kontak, Psoflasis, liken planus, dermatitis seboroik.
·         Penyebab metabolik, yaitu diabetes melitus.
·         Idipatik.
·         Akumulasi smegma dan sekrei suprepusial dan fimosis dukuti infeksi bakteri anaerob dan organisme Vincent.

2.3  Patogenesis Balanitis
Peradangan atau infeksi pada kepala penis ini disebabkan oleh beberapa sebab. Umunya adalah bakteri, fungi, dan mikroorganismelainnya seperti amuba dan trichomonas. Selain itu, infeksi dapat juga disebabkan oleh zat iritan seperti bahan kimia atau bahkan juga urin. Trauma fisik, iritasi, atau infeksi juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit balanitis. Penyakit ini dapat disebabkan oleh kebersihan yang buruk atau karena kesulitan membersihkan smegma akibat fimosis. Penggunaan sabun yang salah juga dapat menyebabkan iritasi dan memperparah peradangan.



2.4  Treatment Balanitis
Ada beberapa cara atau metode dalam penyembuhan penyakit Balanitis pada anjing, salah satunya adalah metode pengobatan tradisional. Metode pengobatan tradisional ini memerlukan bahan-bahan antara lain :
1.                  10 gram daun sendok + 10 gram jombang + 20 gram rambut jagung + 10 gram sambiloto direbus dengan 300 cc air hingga tersisa 150 cc. Airnya diminum saat hangat-hangat kuku.
2.                  6  gram kulit pinang + 30 gram alang-alang + 15 gram krokot + 10 gram jombang + 10 gram daun sendok direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc. Lalu diminum saat hangat-hangat kuku.
Kedua resep tersebut dapat dipilih salah satu untuk metode pengobatan penyakit balantitis pada anjing. Setiap formula digunakan untuk 2 kali proses perebusan. Selain itu, pengobatan balanitis bisa dilakukan dengan cara menjaga kebersihan prepusium dan mencucinya dengan larutan garam faal pada fase akut. Pengobatan penyebab yang mendasari balanitis tersebut dan penggunaan antibiotik yang tepat juga bisa digunakan pada treatment penyakit balanitis. Apabila fimosis sudah menetap, maka sebaiknya dilakukan sunat.











Daftar Pustaka

Beneson AS. Control of Communication Diseases in Man. 14th ed. American Public Health Association. 1985 ; 171-77, 192-84, 251-53, 256-67, 278-80, 341-43, 401-2, 432-33.

Duerden BI., et al. Microbial and Parasitic Infection. 7th ed., Boston; Little. Brown and Company 1993; 130-550, 286-92.

Harris JRW. Recent Advances in Sexually Transmitted Diseases, no. 2, Edinburgh; Churchill Livingstone, 1981: 217-25, 239-64.

Holmes KK et al. Sexually Transmitted Diseases, 2nd ed., New York Mac Graw Hill, lnc., 1990; 305-16, 331-42, 515-22.

Sutantri. Pedoman Diagnosis dan pengobatan Penyakit Kelamin, ed. 2, Yogyakarta; Yayasan Essentia Medica, 1987; 166-70, 211 - 15.

Sutarjo. Dasar Biologis Klinis Penyakit Infeksi. ed. 4, Yogyakarta Gajah Mada University Press, 1994 : 279-83, 291-4.

0 komentar:

Posting Komentar