Balanitis
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
Balanitis
Balanitis
adalah iritasi yang terjadi pada bagian yang paling sensitif dari kepala penis
(balanus) , yang merupakan bentuk
kerucut pada ujung penis. Peradangan tersebut menyebabkan nyeri, rasa gatal,
kemerahan, bengkak dan bisa akhirnya menyebabkan penyempitan (stricture) pada
urethra. Gatal, panas, nyeri. Keluarnya
lendir subprepusial 2-3 hari setelah koitus pada penyakit karena hubungan
kelamin. Pejantan anjing yang mengalami
balanoposthitis akan mengalami
peningkatan resiko berkembangnya balanitis xerotica obliterans, phimosis,
paraphimosis, dan kanker di kemudian hari.
Pada balanitis xerotica obliterans, peradangan kronis
menyebabkan kulit di sekitar ujung penis menjadi keras dan lalu kembali menjadi
putih. Pembukaan urethra seringkali dikelilingi oleh kulit putih yang keras
ini, yang segera menyumbat aliran kemih dan semen. Krim anti radang atau anti
bakteri bisa meringankan peradangan, tetapi seringkali urethra harus dibuka
kembali dengan operasi.
Phimosis
bisa diakibatkan dari iritasi berkepanjangan atau balanoposthitis berulang.
Kulit khitan yang diikat bisa berhubungan dengan berkemih dan kegiatan seks dan
bisa meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Pengobatan yang umum adalah
sunat.
Pada
paraphimosis, kulit khitan yang ditarik kembali tidak dapat didorong ke depan
untuk melindungi kepala penis. Keadaan tersebut paling sering terjadi setelah
ahli medis menarik kembali kulit khitan sebagai bagian pada prosedur medis atau
jika seseorang mendorong ke belakang kulit khitan untuk membersihkan penis pada
seorang anak dan lupa untuk mendorongnya ke arah belekang. Tekanan yang
meningkat segera mencegah darah mencapai penis, yang akan mengakibatkan
kerusakan jaringan penile jika kulit khitan tidak didorong ke arah belakang.
Penyunatan atau pembelaha pada kulit khitan meringankan paraphimosis.
Erythroplasia
dari queyrat biasanya terjadi pada pejantan yang tidak disunat. Yang
menghasilkan daerah terpisah, kemerah-merahan, seperti beludru pada penis,
biasanya di atas atau pada dasar kepala penis. Penyebab tersebut kemungkinan
iritasi lama pada penis di bawah kulit khitan. Jika awalnya bukan kanker,
erythroplasia dari queyrat bisa menjadi kanker jika dibiarkan tidak diobati.
2.2
Etiologi Balanitis
Balantitis
merupakan peradangan yang disebabkan kepala penis mengalami infeksi yang
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
·
Penyakit kolagen,
sindroin Reiter.
·
Erupsi obat.
·
Dermatitis kontak,
Psoflasis, liken planus, dermatitis seboroik.
·
Penyebab metabolik,
yaitu diabetes melitus.
·
Idipatik.
·
Akumulasi smegma
dan sekrei suprepusial dan fimosis dukuti infeksi bakteri anaerob dan organisme
Vincent.
2.3
Patogenesis
Balanitis
Peradangan atau infeksi pada kepala penis ini disebabkan
oleh beberapa sebab. Umunya adalah bakteri, fungi, dan mikroorganismelainnya
seperti amuba dan trichomonas. Selain itu, infeksi dapat juga disebabkan oleh
zat iritan seperti bahan kimia atau bahkan juga urin. Trauma
fisik, iritasi, atau infeksi juga dapat
menyebabkan timbulnya penyakit balanitis. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh kebersihan yang buruk atau karena kesulitan membersihkan smegma
akibat fimosis. Penggunaan sabun yang salah juga dapat menyebabkan iritasi dan
memperparah peradangan.
2.4
Treatment Balanitis
Ada beberapa cara atau metode dalam
penyembuhan penyakit Balanitis pada anjing, salah satunya adalah metode
pengobatan tradisional. Metode pengobatan tradisional ini memerlukan
bahan-bahan antara lain :
1.
10 gram daun sendok + 10 gram jombang + 20 gram rambut
jagung + 10 gram sambiloto direbus dengan 300 cc air hingga tersisa 150 cc.
Airnya diminum saat hangat-hangat kuku.
2.
6 gram kulit
pinang + 30 gram alang-alang + 15 gram krokot + 10 gram jombang + 10 gram daun
sendok direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc. Lalu diminum saat
hangat-hangat kuku.
Kedua resep tersebut dapat dipilih
salah satu untuk metode pengobatan penyakit balantitis pada anjing. Setiap
formula digunakan untuk 2 kali proses perebusan. Selain itu, pengobatan
balanitis bisa dilakukan dengan cara menjaga kebersihan prepusium dan mencucinya dengan larutan
garam faal pada fase akut. Pengobatan penyebab yang mendasari balanitis
tersebut dan penggunaan antibiotik yang tepat juga bisa digunakan pada treatment
penyakit balanitis. Apabila fimosis sudah menetap, maka sebaiknya dilakukan
sunat.
Daftar Pustaka
Beneson
AS. Control of Communication Diseases in
Man. 14th ed. American Public Health Association. 1985 ; 171-77, 192-84,
251-53, 256-67, 278-80, 341-43, 401-2, 432-33.
Duerden
BI., et al. Microbial and Parasitic
Infection. 7th ed., Boston; Little. Brown and Company 1993; 130-550, 286-92.
Harris
JRW. Recent Advances in Sexually
Transmitted Diseases, no. 2, Edinburgh; Churchill Livingstone, 1981:
217-25, 239-64.
Holmes KK
et al. Sexually Transmitted Diseases, 2nd ed., New York Mac Graw Hill, lnc.,
1990; 305-16, 331-42, 515-22.
Sutantri. Pedoman Diagnosis dan pengobatan Penyakit
Kelamin, ed. 2, Yogyakarta; Yayasan Essentia Medica, 1987; 166-70, 211 -
15.
Sutarjo. Dasar Biologis Klinis Penyakit Infeksi. ed.
4, Yogyakarta Gajah Mada University Press, 1994 : 279-83, 291-4.
0 komentar:
Posting Komentar